Hantu Gentayangan Menuntut Keadilan

Desember 28th, 2010

Aku sudah terbiasa menjadi salah satu korban banjir tiap kali hujan turun terlampau deras. Saking biasanya aku tak merasa itu sebuah musibah, tapi sebuah rutinitas yang memang semestinya ada. Bukan salah satu, tapi lebih tepatnya aku adalah satu-satunya orang yang menjadi korban banjir di dusun ini. Dusun yang begitu tenang dan damai. Itulah kenapa aku begitu betah tinggal di sini walau dengan satu rutinitas yang sedikit kurang menyenangkan.

Ah. Aku sampai lupa sudah berapa jam tepaku di sini, duduk menopang dagu sambil termenung di di emperan rumah tetangga. Untung orangnya gak keberatan aku numpang, barang dua sampai tiga hari. Selalu. Tiap tahun selalu seperti ini. Kupandangi tumpukan barang, pekakas dapur yang sudah menghitam, amben yang agak reot, kasur yang lapuk, lemari yang satu kakinya patah dimakan rayap, menumpuk jadi satu di emperan ini.

Aku tak ingin membuang barang-barang itu, meski orang lain bilang rongsokan, aku tak peduli. Itu hartaku hasil jerih payahku, lebih baik dari pada barang mewah yang dibeli dengan uang rakyat yang tak jelas jeluntrungnya.

Untung Tuhan masih memberiku kenikmatan, merasa nyaman dengan keadaan yang sebagian besar orang sulit untuk menerimanya. Terutama pejabat-pejabat itu.

***

Orang-orang itu, sejak tadi berkumpul di depan rumah. Sebagian sekadar menonton, sebagian lagi ada yang tulus menaruh simpati. Mereka para penonton, berdiri saja dengan melipat kedua lengan di depan dada sambil ngobrol dengan teman sebelahnya. Jari mereka menunjuk-nunjuk ke arah rumah yang sudah reyot termakan usia. Penaruh simpati turun ke bawah, sibuk mengangkut barang-barang dari rumah lalu ditumpuk jadi satu di emperan sebelah. Sebagian lagi gengsi becek-becek, mereka mendekatiku sekadar bertanya ini itu, lalu berlalu setelah menyalamiku dengan selembar kertas berwarna merah, hijau, atau ungu, tergantung kadar kedermawanan.

Aku beruntung, mereka masih punya empati untuk meringankan bebanku. Tidak seperti bapak tua yang memimpin desa ini. Mana batang hidungnya? Sejak kemarin aku tak melihatnya. Masih mending para penonton, turut meramaikan suasana, terlihat lebih manusiawi ketimbang tak acuh sama sekali. Masih mending mereka, para penonton cilik yang ramai-ramai datang membawa rombongan. Aku tak keberatan, walau menjadi tontonan.

Kalau tidak karena kasih sayang Tuhan dan uluran tangan manusia yang masih punya hati, mungkin sudah lama aku pergi dari sini. Bukan kabur keluar kota untuk mengadu nasib, atau ke luar pulau mengikuti program departemen tenaga kerja dan transmigrasi. Aku hanya sudah bosan karena tak ada yang peduli, putus asa akan hidup yang tak menganggapku berarti, mentransmigrasikan diri menuju kampong abadi tentunya akan lebih baik kujalani.

Sudah dua hari, ada saja orang-orang yang datang ke rumah, sekadar mengantarkan tiga rantang nasi, beberapa kilo beras, atau para pegawai yang gak mau repot memilih memberikanku sejumlah uang.

Rizki memang tidak kemana. Itu keyakinanku. Keyakinan yang sederhana untuk tetap bisa bertahan hidup. Meskipun sebenarnya hati ini memberontak meminta keadilan, dimana mereka? Para petinggi pelindung desa yang seharusnya memberiku perlindungan.

Perlindungan itu tak pernah kudapatkan, uluran tangan apalagi santunan, layaknya para pengungsi letusan gunung merapi, gempa di wasior, banjir di jakarta, atau tsunami di aceh. Tak pernah. Meskipun tiga kali berturut-turut tiap tahun rumahku tergenang air, sebagian perabot rumah ikut hanyut terbawa, beberapa ayam yang biasa kutukar dengan sekilo beras dan sepotong tempe tiap harinya, turut hilang dan baru ketemu beberapa hari setelahnya dalam keadaan tak bernyawa.

Di tengah pengungsianku di rumah tetangga, sekadar menghilangkan sedikit beban, kunyalakan teve untuk hiburan. Rupanya sekarang media sedang gencar memberitakan letusan merapi dan gempa wasior. Aku berharap kenapa aku tidak jadi salah satu dari mereka, sehingga aku turut merasakan senangnya dikunjungi bupati, wali kota, mentri, bahkan presiden sampai artis. Ah, jangankan presiden yang mengurus negara, lha wong petinggi yang mengatur urusan desa saja tak pernah muncul batang hidungnya.

***

Ini banjir yang kelima kalinya sejak aku memilih tinggal di kampong ini. Di kota terlalu banyak tuntutan, makanya aku lebih nyaman di sini dengan segala jenis kesederhanaannya.

Banjir. Sudah menjadi rutinitas yang tak begitu berarti. Ya. Sekadar rutinitas yang datang lalu pergi.

Tidak. Rutinitas kali ini tak sebagaimana mestinya. Aku merasakan hawa yang beda. Hujan itu turun lebat tak seperti biasanya, kelebatannya dua kali lebih besar. Kilat dan guntur terus menggelegar tanpa jeda. Hembusan angin pun tak lagi sekadar semilir yang menyejukkan, seperti malaikat yang siap-siap menyambar sasaran.

Ya. Seperti biasa. Aku harus bersiap-siap, lari ke rumah sebelah, mengungsi dan menyelamatkan barang. Sebelum banjir itu semakin besar. Barang-barang? Ah! Biarkan saja. Sebentar lagi orang kampong akan berkumpul, rame-rame angkut-angkut barang-barang dari rumah, lalu ditumpuk jadi satu di emperan sebelah. Seperti biasa.

Oh!! Ternyata tidak. Hujan kali ini terlampau deras, sepertinya orang-orang takut keluar.

Kutengok suasana sekitar dari lubang kecil celah candela, sedikit memberi gambaran bagaimana kondisi di luar. Oh. Tidak. Cuaca begitu menyeramkan, di luar begitu gelap. Jarum jam masih menunjuk angka 12, tapi suasana seperti sore menjelang maghrib.

Aku buka candela belakang, kutengok ke arah sungai. Air berwarna coklat mulai meninggi. Sebentar lagi, tak lama lagi air itu pasti menggenangi rumah ini.

“bu. Kita harus keluar sekarang.”

“tapi pak…”

“jangan banyak berfikir, atau kita akan mati konyol di sini.”

Istriku menatapku bimbang.

“mau apa lagi!!! ayo!!! nada suaraku semakin tinggi. Aku menarik tanggan istriku, dan….

Tiba-tiba punggungku terasa terdorong ke depan, lalu tertarik ke belakang, pegangan tanganku makin erat, “Bu….!”

***

Sepertinya cuaca sudah membaik. Matahari sudah menampakkan sinarnya. Langit tampak putih bersih tanpa mendung. Hangat, itu yang kurasakan di kulit.

Ada apa di sana? Kenapa orang-orang pada kumpul di depan rumah? Bukannya hari ini cuaca begitu cerah, tak ada banjir. Aku berjalan, sedikit memperpanjang langkah, penasaran. Kuterobos jejeran tubuh manusia yang sepertinya khusyuk menonton sesuatu. Badanku menerobos melalui celah-celah tubuh yang entah kenapa begitu mudah aku lewati. Mata-mata mereka tertuju pada satu arah. Satu pemandangan yang sulit kupercaya.

“rumahku?”

Sejak kapan genteng itu hampir sejajar dengan tanah? Seketika terbayang sejuta kisah tentang kesedihan dan rasa pilu yang mendalam. Istriku? Dimana dia?

Baru saja aku ingat, tangannya kupegang sangat erat, saat sebuah gelombang air mengahantamku dari belakang, lalu dunia berubah jadi gelap.

***

Aku metatut diri di depan cermin. Merapikan baju dan sarung. Lalu berjalan keluar menuju rumah pak inggi. Aku ingin menyampaikan satu pesan, kalau besok ada syukuran. Tapi acaranya di rumah sebelah.

“assalamu alaikum pak”

“waalaikum salam. Oh. Pak Adnan. Tumben sekali. Silakan masuk, Pak.” Senang sekali beliau menyambutku begitu ramah, meskipun sebenarnya masih tersisa rasa sakit di hati. rasa sakit yang mungkin tak kan pernah bisa terhapuskan. sampai kapanpun.

“gini pak, besok ada syukuran di rumah saya, sudikah kiranya bapak datang ke gubuk saya?”

“Insya alloh pak, akan saya usahakan.” Senyumnya begitu sumringah. Tapi aku malas membalasnya. Kulihat jelas di kepalanya, ada satu kerdus isi nasi ayam dan jajanan. Dasar!!

***

“Itu dia, rupanya pak inggi sudah datang.”

Di dalam rumah sebelah sudah banyak orang, pak inggi masuk tanpa salam. Semua undangan sibuk membaca Surat Yasin. Pak inggi langsung gabung, ikut membaca tanpa harus buka Qur’an. Sepertinya dia hafal di luar kepala. Atau mulutnya sekadar komat-kamit entah baca apa.

Seluruh mata seketika menuju satu arah, seorang petinggi yang biasanya tak pernah datang pada setiap penderitaan. Kini datang tanpa diundang. Si petinggi cuma tenang, merasa dirinya mendapat undangan, langsung dari yang punya hajat.

“ila hadrotin nabiyyil mustofa muhammadin…. Wa ilaa ruhi bapak Adnan….” Kuperhatikan wajah pak inggi tiba-tiba memerah. “bapak adnan siapa ya pak?” Bisik pak inggi pada bapak-bapak di samping kanannya

“masa bapak gak tahu, ya pak Adnan yang tinggal di rumah sebelah.”

“kok?” Tampak jelas raut muka pak inggi penuh dengan kekagetan

“kenapa pak?”

“kok ilaaa ruhi-nya ke pak Adnan?”

“la wong ini selametan tujuh hari sepeninggal beliau.”

Jantung pak inggi nyaris copot. Matanya terbelalak. Aku yang sejak tadi memperhatikan terpingkal-pingkal. Rasain Loe…!